Ketika Asisten Rumah Tangga Menghilang

Mudik lebaran sudah usai, saatnya kembali pada kenyataan.

Biasanya, kenyataan ini tak selalu semulus angan. Ibu-ibu macam saya ini kalau nggak direpotkan dengan berat badan yang meroket nggak ketulungan (salah siapa lontong opor sepanci dihabisin sendiri), ya ketar ketir: adakah embak yang duduk manis di kampung halaman, bersedia berlabuh kembali ke rumah majikan.

Dan apesnya…. mudik lebaran ini banyak dimanfaatkan para embak untuk berganti haluan. Pindah kerjaan, dan say goodbye dengan majikan yang menunggu dengan hati bimbang.

Dulu waktu anak-anak masih Balita, saya selalu diusik dengan keadaan ini. Ndilalah, kok ya hampir selalu embak tak balik lagi. Maka, habis lebaran adalah saatnya saya hunting ART. Titip pesan ke satpam, petugas kebersihan, telefon-telefon penyalur yang kadang ngasih harga di luar batas kewajaran.

Padahal sebelum lebaran sudah ditanya baik-baik, adakah dia akan kembali lagi? Dan jawabannya pun lembut manja

“Ya balik lah bu…”

Tapi ya itu saja yang terulang. Tahu-tahu mengabari kalau diminta ibunya untuk tinggal di kampung, tahu-tahu bilang mau dikawinin, atau versi yang lebih kejam: Hp dimatiin dan majikan tak bisa lagi menghubungi.

Kena deh

Dan hunting ART itu tidak selalu mudah. Malah pengalaman saya mengatakan, lebih banyak susah dan ngalahnya. Berhubung saya berada di posisi yang sangat butuh, mau-mau saja ditembak ongkos berapa pun oleh penyalur. Termasuk gaji yang diminta si embak, biasanya cenderung dipenuhi. Ya karena butuh itu tadi..

Demikian juga dengan ART “pulang hari” atau ART yang tidak menginap. Biasanya lingkup pekerjaan yang mereka lakukan seputar mencuci, menyeterika, dan mengepel lantai. Kemungkinan untuk tidak balik setelah lebaran juga sangat besar. Biasanya sih karena tergiur tawaran rumah lain yang gajinya lebih besar.

Padahal, karena ART jenis ini banyak diminati, mereka bisa pegang dua hingga tiga rumah dalam sehari. Yang imbasnya pekerjaan jadi terburu-buru dan tidak maksimal. Tapi mau gimana lagi, wong butuh banget.. ya sudahlah ngalah saja dengan hasil kerja yang ala kadarnya.

Setelah saya pikir-pikir mendalam..

Kok ketergantungan saya akan ART nyaris menyamai ketergantungan akan udara, makanan, dan cinta ya.. -_-

Padahal ini rumah-rumah saya sendiri. Pekerjaan yang saya lakukan ya hasilnya saya nikmati sendiri. Tapi karena terlalu takut tidak bisa hidup nyaman tanpa ART, takut anak tidak keurus tanpa ART, dan ketakutan-ketakutan lain.. jadilah saya enjoy saja dengan ketergantungan itu.

Hasilnya.. ketika embak tak balik lagi.. dunia rasanya semerepet. Badan greges-greges, masuk angin, linu, dan sakit sendi -_-

Akhirnya saya dan suami memutuskan: Bagaimana jika kita akhiri ketergantungan ini?

Saya awalnya ragu, kalau saya fokus pada pekerjaan rumah, saya nggak bisa ngapa-ngapain donk.. nempeeel aja gitu sama gagang pel.

Tapi kalau ingat lagi betapa saya jadi begitu bergantung pada orang lain, saya pun memutuskan berani hidup mandiri. Mari kita berevolusi!

Hari pertama, baik-baik saja. Semua pekerjaan bisa di-handle

Hari kedua, lumayan pegel sih. Tapi tak seburuk yang saya kira.

Hari ketiga, mulai terbiasa. Tiba-tiba kaki ini jadi tak malas lagi bolak balik di dalam rumah untuk rapih-rapih.

Satu catatan saya: rupanya tanpa ART saya jadi tidak menunda-nunda pekerjaan. Hasilnya di luar dugaan: rumah saya malah jadi rapi terus. Beda dengan ketika ada ART pulang hari. Dimana ketika ART pulang (ia hanya bekerja 2 jam) ya rumah kembali bubrah.

Gimana nggak rapi terus. Ada kotoran sedikit langsung dipel secara lokal. Cucian piring tidak dibiarkan numpuk. Anak-anak selalu ditausiyahi agar lekas membereskan mainan usai dipakai. Begitupun dengan gelas-gelas bekas minum, selama tidak kotor dan berminyak ya dipakai lagi. Padahal tadinya dalam sehari kami bisa ganti selusin gelas.

Jika tadinya anak-anak sering makan di sembarang tempat, sekarang malah lebih mudah diarahkan untuk makan hanya di meja makan. Agar kotornya lokal dan mudah dibersihkan.

Cucian baju kami serahkan kepada ART impor merk Samsung. Sesudahnya lipat-lipat manis tanpa perlu disetrika, wong sebenarnya bahan kaos itu nggak kusut-kusut amat kok. Hanya baju kerja dan baju sekolah saja yang bau gosokan. Ini cukup 3 hari sekali tanpa bikin patah pinggang.

Lap-lap dilakukan kontinyu selama ada kotor. Habis masak segera mencuci dan membereskan perkakas. Semuanya segera.

Dan hasilnya: rumah saya malah belum pernah serapi ini..

Nah, jika ibu mengalami dilema ART tidak balik lagi, dan dalam posisi sama seperti saya: full time di rumah, dan tidak ada bayi. Tips ini mungkin bisa digunakan. Menyegerakan pekerjaan, dan melibatkan serta mengkondisikan seluruh anggota keluarga bahwa kita kini mandiri tanpa ART. Yang saya rasakan kami justru jadi tim yang solid dan saling membantu.

Untuk ibu bekerja, tentu kebutuhannya berbeda ya.. hunting ART rasanya tidak terelakkan. Tapi tak mengapa bu, mari bersabar. Jika anak-anak sudah besar, semoga kebutuhan akan ART tidak se-mendesak dulu.

Jadi gimana.. masihkah galau di-PHP in pembantu?

Heheheh.. tarik nafaas..hembuskan… dan mari lakoni sak tekane

Salam ibu rumah tangga! ^_^

Ditulis oleh : Wulan Darmanto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s